AWALILAH DENGAN KEBENARAN
Mazmur 119: 137-144
Mazmur 119: 137-144
Mazmur 119 ini lain daripada mazmur-mazmur yang lain, panjangnya lebh dari dua kali lipat pasal-pasal yang lain. Mazmur ini merupakan seruan kesalehan dan kesungguhan Daud yang ia tuangkan dalam bentuk tulisan. Seruan yang ia tuliskan ini menjadi sarana baginya untuk memelihara persekutuannya yang berkelanjutan dengan Allah dan untuk menjaga hatinya tetap murni kepada Allah. Susunan mazmur ini sangat khas dan sangat teliti. Pemazmur menggunakan seni acrostic (seni menggubah puisi dengan menggunakan huruf-huruf tertentu yang sama dalam setiap baris untuk membentuk sebuah kata) dalam menyusunnya. Mazmur ini dibagi menjadi 22 bagian, sesuai dengan jumlah huruf dalam abjad Ibrani dan masing-masing bagian terdiri dari 8 ayat. Maksud dari penulisan pasal yang sedemikian cermat ini adalah supaya memudahkan orang untuk menghafalnya.
Tujuan pemazmur menuliskan mazmur ini adalah untuk mengagungkan Hukum Taurat (Torah) dan membuatnya menjadi terhormat. Pemazmur juga ingin menggambarkan keistimewaan dan kegunaan hukum Allah (yang ia sebutkan dalam 10 kata yang berbeda namun 1 arti), tidak hanya untuk menghiburkan kita melainkan untuk mengendalikan diri kita. Dalam menyanyikan mazmur ini, kita harus mengungkapkannya dengan kasih kesalehan. Orang percaya yang selama ini begitu dingin terhadap Firman Allah akan merasa malu ketika membaca mazmur ini, karena pemazmur dengan kesungguhan hatinya menuliskan bahwa dia mencintai TauratNya, kebenaranNya.
Lalu bagaimana dengan kita, sudahkah kita memiliki sikap hati seperti pemazmur yang menghargai dan mencintai Firman Allah? Mari kita fokus dalam ayatnya yang ke 137-144. Dalam 8 ayat ini pemazmur ingin mengingatkan kita mengenai 3 hal:
Yang pertama; ayat yang ke 141, walaupun Daud itu kecil, hina, tidak berharga namun dia tidak mengabaikan Taurat Allah. Taurat Allah menjadi prioritas dalam hidupnya. Bagaimana dengan kita, sudahkan Firman Allah menjadi prioritas bagi hidup kita? Apa yang kita cari saat kita membuka mata kita?
Yang kedua; ayat 143, saat Daud ditimpa masalah, kesesakan, kesedihan yang mendalam, Taurat Tuhan tetap menjadi kesukaannya. Kondisi dan keadaan yang menimpa kita, seharusnya tidak menjadi alasan bagi kita untuk tidak mencintai Firman Tuhan dan melakukan kebenaranNya.
Yang terakhhir; ayat 144, Daud sangat menyadari bahwa peringatan atau ajaran-ajaran Tuhan itu kekal dan tanpa itu Daud sadar bahwa dia tidak akan memiliki pengertian serta hidup. Maka Daud mengungkapkan permohonannya, “buatlah aku mengerti, supaya aku hidup.” Demikian juga dengan kita, kita akan memiliki pengertian yang benar, hidup dalam kebenaran dan mengenal Allah ketika kita mencintai hukum-hukumNya.
Jika kita tidak mau belajar mencintai dan menghidupi kebenaranNya, untuk apa kita menjadi orang-orang percaya (orang yang sudah menerima kebenaran). Jadi, mencintai dan menghidupi kebenaran sesungguhnya merupakan kewajiban (hukumnya wajib bukan sunah). Jadi mari kita mencintai FirmanNya dalam kondisi apapun, dan menghidupi FirmanNya dengan hidup benar sesuai kebenaranNya. Firman, ajaranNya memang sangat banyak dan tidak mudah kita hidupi, namun ketika kita mau berkomitmen untuk belajar, Roh Kudus akan menolong kita untuk memahami dan mentaatiNya. Amin. Tuhan Yesus memberkati.
-DK-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar